Indonesia telah dinyatakan bebas malaria, namun belum untuk demam berdarah
dengue (DBD). Padahal keduanya sama-sama penyakit yang penularannya melibatkan
nyamuk.
Indonesia telah dinyatakan bebas
malaria, namun belum untuk demam berdarah dengue(DBD). Padahal
keduanya sama-sama penyakit yang penularannya melibatkan nyamuk. Menurut Guru
Besar Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, Sri Rezeki S Hadinegoro, meskipun malaria dan demam berdarah sama-sama ditularkan melalui nyamuk, namun penyebabnya
berbeda. Jika malaria disebabkan oleh parasit plasmodium, sedangkan DBD
disebabkan oleh virus dengue. Penyebab yang berbeda inilah yang mempengaruhi
perbedaan gejala keduanya.
"Gejala malaria lebih mudah
dikenali dibandingkan DBD, seperti menggigil, keluar keringat dingin, organ
limpa yang diraba terasa membesar. Sedangkan DBD, gejala awalnya hanya
demam," ujar dia dalam konferensi pers bertema "Unity and Harmony,
Menuju Jakarta Bebas DBD 2020" di Jakarta, Minggu (15/6).
Sri mengatakan, karena gejala malaria
mudah dikenali sehingga penanganan dapat langsung dilakukan. Sebaliknya,
pemantauan perjalanan gejala DBD merupakan hal yang terpenting dalam penanganan
penyakit DBD. Perjalanan penyakitnya bervariasi sehingga dibutuhkan perhatian
khusus untuk mengenalinya.
"Penyakit DBD itu tidak bisa
diprediksi, jadi harus dipantau terus. Perjalanan penyakitnya sulit,"
papar Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia ini.
Selain itu, sifat nyamuk yang menjadi
vektor kedua penyakit pun beda. Untuk malaria, nyamuknya berjenis Anopheles
yang menyukai air kotor. Hal ini membuat nyamuk tersebut lebih mudah untuk
diisolasi. Lain halnya dengan nyamuk Aedes yang menjadi vektor DBD yang
menyukai air bersih.
"Karena menyukai air bersih, nyamuk
Aedes lebih mungkin untuk hidup lebih dekat dengan manusia," kata dia.
Sri menjelaskan, lingkungan yang hangat
di Indonesia juga cocok untuk perkembangbiakan nyamuk Aedes. Tak hanya itu,
saat ini malaria sudah ditemukan vaksin dan obatnya, tetapi belum untuk DBD.
Hingga awal 2014, terdapat 212
kabupaten/kota di 29 propinsi di Indonesia telah memenuhi syarat untuk
dinyatakan bebas penyakit malaria. Sementara DBD masih terjadi di 31 propinsi
dan dinyatakan sebagai endemi atau penyakit yang terjadi sepanjang tahun.
(Unoviana Kartika/Kompas.com)













